Thursday, July 22, 2021

"YOU WIN BUT NO GLORY."


Saya pernah terkagum-kagum oleh kenalan baru saya karena dia begitu kaya raya.  Rumahnya seperti istana, dia punya beberapa hotel, mobil mewahnya banyak, moge-nya bejibun, punya kapal pesiar dan masih banyak lagi yang kalo saya sebutin semuanya pasti penyakit iri dan dengki saya kambuh kembali, pasti saya gondok sendiri.

"Kok lo bisa sekaya itu sih? Dapet dari mana semua itu?" tanya saya suatu hari. Rasa kepo yang membengkak membuat saya nekat untuk bertanya.

Di luar dugaan, orang itu ngejawab begini, "Semuanya warisan dari babe gue.."

Tetot! Kekaguman saya langsung padam. Tadinya saya mengira dia akan bercerita bahwa dulunya dia bukan siapa-siapa lalu dilanjutkan dengan kisah tentang perjuangan heroik yang dia lakukan untuk memperbaiki taraf hidupya. Tapi ternyata? Huh! Kalo warisan doang mah lo cuma kebetulan lahir di tempat yang beruntung aja. Ga seru ah! Gak ada perjuangannya.

Pernah juga waktu masih sekolah, seorang temen mau ikutan naik gunung. Team pendaki gunung kami heran, soalnya dia anak orang kaya dan tipe anak manja. Ngapain juga dia mau ikutan naik gunung segala? Tapi Ketua Pendaki Gunung kami mengizinkan sambil berkata, "Kita harus support orang yang mau bersahabat dengan alam."

"Iya deh…" Semua orang terpaksa setuju.

Dan yang kami kuatirkan pun terjadi. Baru juga jalan sekilo, dia udah ngomel gak keruan, "Gue gak pernah ngerti ngapain sih kalian naik gunung? Nyiksa diri sendiri."

Semua orang menoleh tapi gak ada yang berminat merespon omongannya.

"Hadoh! Mana jalanannya tanjakan melulu, kapan turunannya nih?" Omelan berlanjut.

"Namanya juga naik gunung ya pasti tanjakan. Kalo turunan masuk ke sumur sana," celetuk seorang temen dengan suara kesel.

"Kalo cuma mau sampe ke puncaknya, kan kita bisa sewa helikopter? Gue yang bayarin deh ongkos sewanya," kata Si Anak Manja lagi.

"Kalo kita naik helikopter kita nyampe juga tapi ga ada perjuangannya. You win but no glory." sahut saya. 

Memang agak sulit memberi pengertian bahwa perjuangan itu perlu. Tapi untungnya saya menemukan video ini di youtube. 

Saya sampe merinding ngeliat film yang saya posting ini. Sebuah perjuangan dari Derek Redmond dalam olimpiade 1992, di Barcelona, Spanyol. Dia adalah pelari nomor 400 Meter. Di event itu dia sangat diunggulkan untuk meraih medali emas. Saya ceritain dikit ya…

Semua pelari sudah siap dalam posisi di garis start. 

Dor! suara pistol ditembakkan sebagai tanda bahwa pertandingan sudah dimulai. 

Semua pelari langsung terbang untuk mengadu kecepatan. Derek Redmond melakukan start yang sangat bagus. Dengan gesit dia berkelebat dan memimpin di depan. Nampaknya dia akan sangat mudah untuk memenangkan adu lari 400 meter itu.

Sayangnya pas 250 meter menjelang finish, tiba-tiba otot hamstring Derek di kaki sebelah kanan robek. Otot hamstring terletak di belakang paha dan tidak banyak digunakan saat kita berjalan atau berdiri. 

Otot ini baru bekerja sangat aktif ketika kita berlari, memanjat atau melompat. Kalo otot ini sampe robek, hadoh! Sakitnya minta ampun! Saya pernah mengalaminya waktu saya melakukan pendakian ke gunung Slamet. Karena gak bisa berjalan lagi, saya sampe ditandu oleh Team SAR dari Perhutani menuju rumah sakit terdekat. Percaya deh, sakitnya minta ampun.

Derek Redmond terduduk dan meringis kesakitan. Sementara pelari lainnya berlari dengan cepat melewati dan meninggalkannya jauh sekali. Team kesehatan datang dan sejenak memeriksa cidera yang dialami pelari berkulit hitam ini.

Tamatkah nasib Derek Redmond? Sudah pasti dia gagal untuk meraih medali. Namun apakah dia berhenti berjuang? Ternyata tidak sama sekali. Apa yang terjadi? Dengan gagah perkasa dia bangkit dan berlari melanjutkan pertandingan. Dengan tertatih-tatih dan hanya mengandalkan kaki kirinya dia melanjutkan berlari. 

Semua lawan sudah mencapai garis finish. Tapi Derek terus berlari dengan satu kaki sambil meringis kesakitan. Lalu apa gunanya Derek berlari? Gak ada gunanya kan? Tidak akan membuat dia meraih medali. Sudah pasti dia akan berada di kedudukan paling buncit. Air matanya ke luar karena setiap langkah yang dirasakan hanyalah nyeri tak terhingga. Tapi Derek tidak menyerah, "I am going to finish the race." Begitu tekadnya.

Dalam keadaan sakit teramat sangat, tiba-tiba seorang berbadan tambun melompat dari atas tribun. Dengan berani dia melawan para sekuriti yang berusaha mencegahnya masuk ke arena. Yak dialah Jim Redmond, ayah dari Derek. 

"You don't have to do this, Son," kata Sang Ayah.

"Yes, I do. I have to finish the race,"jawab Sang anak.

"Okay then. Let's finish it together," jawab Si Ayah lagi.

Suasana menjadi dramatis ketika penonton melihat bagaimana Sang Ayah mengalungkan tangan Derek ke lehernya. Dia memapah Anaknya untuk membantunya menyelesaikan pertandingan sampai ke garis akhir.

Sesampainya di garis finish, penonton bertepuk tangan dan memberikan standing ovation pada Derek. Suasana begitu mengharukan bukan hanya bagi penonton tapi juga buat Derek. Dia memeluk ayahnya sambil menangis. 

Emotional moment yang terbangun di pertandingan itu juga diberitakan di seluruh media di Eropa, Amerika dan terutama di Inggris. Semua wartawan menulis hal yang sama…apa itu? Yak mereka menulis perjuangan Derek Redmond yang sangat dramatis tersebut. Para kuli tinta menceritakan bagaimana hubungan seorang anak dan bapak yang menginspirasi semua orang.

Lalu siapakah juaranya? Namanya Steve Lewis, pelari dari Amerika tapi lucunya, hanya sedikit orang yang ingat pada Steve. Kenapa? Karena semua orang hanya fokus pada perjuangan Derek Redmond yang menunjukkan kepada dunia apa artinya menjadi atlet olimpiade. 

Derek memang kalah, Derek memang tidak mendapat medali tapi karena perjuangannya, dia malahan mendapat liputan yang jauh lebih besar daripada Steve Lewis. 

Jadi pointnya bukan soal menang atau kalah tapi bagaimana cara kita memenangkan sebuah pertandingan. Kalo kita berjuang, walaupun kalah kita bisa tetap berdiri dengan kepala tegak dan orang akan respek sama kita. 

Orang lebih menghargai perjuangan kita daripada kesuksesan kita. Derek memang gagal tapi bagi semua penonton, dialah juara yang sesungguhnya.

Memenangkan sesuatu tanpa perjuangan sama kayak kita dapet hadiah tendangan penalti tapi gawangnya ga dijaga oleh kiper. Pasti gol kan? Kita pasti menang kan? Tapi rasanya gimana? You win but no glory...👍👍

Saturday, July 17, 2021

*RANJANG TERMAHAL*


Aku tau RANJANG  "Termahal" di dunia adalah "RANJANG Rumah Sakit" yang tidak sanggup saya beli. Hanya boleh saya "Sewa Harian" dengan Harga yang tidak sanggup ku bayar. 

Baiklah dengarkan tutur Mr. Steve Jobs dibawah ini :
Kekayaan Alm. Steve Jobs pemilik Apple Computer Rp. 67 Triliun.
Kata2 terakhir Steve Jobs sebelum meninggal:

"Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobiku tak banyak. 
Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama & kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.
Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku.

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. 
Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.

Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita bisa merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam. Tapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah — itu hanya ilusi saja.

Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. 
Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang. Amal dan Pahala itulah yang selalu menemaniku untuk mencapai tujuan akhir.

Ranjang apa yang termahal di dunia ini? Ranjang orang sakit. 
Orang lain bisa bukakan mobil untukmu, orang lain bisa kerja untukmu, tapi tidak ada orang bisa menggantikan sakitmu. 
Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali lagi.
Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa kesehatan itu betapa berharganya.

Kita berjalan di jalan kehidupan ini. 
Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. 
Bagaikan panggung pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir.

Yang patut kita hargai dan sayangi adalah *hubungan kasih antar keluarga*, 
*Cinta akan suami-istri* ~ *Anak* dan juga *Kasih Persahabatan antar-teman.* 

*_HARGAI SETIAP DETIK  DALAM KEHIDUPAN KITA, ISI HIDUP KITA DENGAN PERKARA-PERKARA YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG_*

Semoga bermanfaat...!

Tuesday, July 13, 2021

Pengisian Oksigen


Bagi Saudaraku yang butuh pengisian Oksigen, bisa di tempat-tempat di bawah ini ya....

*1. CV GOTI:*
Jl. Kalibokor selatan
Ruko ngagel Jaya Indah blok D no. 56
Dekat gedung wanita
HP: 085-733-893-933
Telp.: 031-5027264,  5045780
*harga isi oksigen: Rp 66.000/tabung*

*2. MITRA GAS*
Jl. Gubeng Kertajaya 7H No. 12
HP: 0815-5387-9155
0821-3119-2546
0813-3643-2915
*harga isi oksigen: Rp 120.000/tabung*

*3. OKE OKSIGEN*
Sekarang:
Pandugo I Blok PB no. 21
Penjaringan Sari
Rungkut, Sby

Per awal Juli akan pindah ke:
Ruko
Jl. Kendalsari Selatan A7
Sby

HP: 0856-3038-808
0812-3440-3430
0813-3167-9797
0878-5576-6307
0878-5130-3999

*Harga isi Oksigen:*
1m3   = Rp40.000
1,5m3 = Rp60.000
2m3    = Rp80.000
6m3    = Rp150.000

*4. CV CAROLINA PERDANA*
Jl. Joyoboyo 70
Sby
Telp. :
031-8987278
0822-4475-6559
0822-3240-2240
Keterangan: blm sy telpon

*5. Pak Ferdi*
HP : 0857-3334-6325
*Harga isi oksigen:*
1m3 = Rp75.000

Untuk Luar Surabaya.
1. CV CANDI GASINDO 
Jl. Margomulyo 44 blok KK-01, Surabaya
Pergudangan PT Suri Mulia
Telp. : 7482230/7482231
HP: 085852349737 

2. CV CANDI GASINDO MALANG
jl.raya watu dakon RT.11/Rw.07,
Desa Kendalpayak ,Kec. Pakisaji, Kab.malang
Telp: 0341-8206703
HP: 081332904024 

3. CV CANDI MITRA GAS
Jl.Demak km 12,5 Semarang
Tlp: 024. 6514333
HP: 085290515160 

4. CV CANDI SURYA GAS
Jl. Raya Probolinggo situbondo km 137 no:887
Telp:773888
HP: 081357098409 

5. CV. CANDI SUKSES ABADI
Bypass krian , Sidoarjo 
HP: 085931276364 

6. CANDI OXYGEN
Jl. Lingkar timur km 5,5, Sidoarjo
Pergudangan safe n' lock blok K1726-1729
Telp : 99010315
HP:  08113739800 

7. CANDI SULI MITRA SEJATI
Suli, Salahutu, Central Maluku Regency, Ambon
HP: 082398192001

*CATATAN:*
Bagi yg membutuhkan info lebih jelas, sebaiknya menelepon lagi dikantor di atas.

Tuesday, June 22, 2021



SAYANGI MEREKA


Ketika kita masih muda dan memiliki anak2 yg masih kecil, m a k a mereka menjadikan kita seperti BOLA BASKET 🏀... yg selalu menjadi rebutan k a r e n a ada sesuatu yg mereka ingin dapatkan dari kita....

T e t a p i ketika kita telah menjadi tua, m a k a kita akan seperti BOLA VOLI  🏐 yg dioper ke sana ke mari..., dari satu anak ke anak yg lain...,k a r e n a mereka anggap orang tua hanya bisa menyusahkan dan membatasi kebebasan mereka untuk beraktifitas...

Daaaan....ketika kita telah menjadi semakin tua, m a k a anak2 memperlakukan kita seperti BOLA SEPAK ⚽ yg ditendang kesana kemari k a r e n a  semakin menyusahkan dan hanya dianggap sebagai beban....

Daaan ketika sudah jompo..., anak2 memperlakukan kita seperti bola golf 🏌dibuang sejauuuuhhh mungkin ⛳.
Kalau bisa sesegera mungkin agar masuk lubang....

INGAT, sebagai anak-anak yg memiliki orang tua, kita pun akan menjadi tua seperti mereka, dan apa yg kita telah tabur didalam kehidupan ini , akan kita tuai hasilnya dikemudian hari....

Oleh sebab itu jadikanlah org tuamu seperti BOLA RUGBY 🏈m e s k i p u n berlumuran lumpur n a m u n tetap dipeluk dan didekap dengan eratnya ...

Sayangi orang tua kita selama masih ada kesempatan,    s e b a b esok mungkin kan terlambat....

Thursday, May 20, 2021

KANTONG BERLUBANG


Ada  rahasia dari seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya.

Orang tersebut mempunyai dua kantong. 
Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tetapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang MENYAKITKAN yang pernah didengarnya seperti kata2 makian, sindiran, gosip, dan kata2 kotor, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang BERLUBANG.

Tetapi semua yang INDAH, semua yang benar, semua yang menyukakan hati dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang TIDAK ADA LUBANGNYA

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya dan menikmati hal2 indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu.

Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan sesuatu. 
Iapun tertawa dan tetap bersukacita karena kantong tersebut tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang BAIK di kantong yang TIDAK BERLUBANG, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita.

S e b a l i k n y a simpanlah semua yang BURUK di kantong yang BERLUBANG, dimanapun yang buruk itu akan jatuh tercecer dan tidak dapat kita ingat lagi.

N a m u n sayang sekali, begitu banyak diantara kita yang melakukan dengan TERBALIK... 

Menyimpan semua yang baik di kantong yg berlubang, dan apa yang tidak baik di kantong yang tidak berlubang.

Memelihara pikiran2 jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati, hanya akan membuat kita tidak bisa menikmati kebahagiaan hidup.

Jiwa menjadi tertekan dan tidak ada gairah dlm menjalani kehidupan.

Wednesday, May 19, 2021

Cerita di balik lukisan "TANGAN BERDOA"


"Lukisan Tangan Berdoa", sering kita lihat di sticker postingan grup WA , ternyata adalah lukisan *Albrecht Durer* yang luar biasa; membuat orang terkesan dengan gambar tangan ini, bahkan sebelum mendengar kisahnya.
Tak heran Michel Angelo pernah berkata: "Saya rela mati demi meninggalkan karya yang besar" dan William James berkata: "Kalau anda mau mati meninggalkan karya yang besar tinggalkanlah karya yang abadi." Tetapi apa itu yang abadi?

Nah, sekarang ingin tahu cerita di balik lukisan tangan berdoa? Inilah kisahnya:

Di sebuah desa kecil dekat Nürnberg, Jerman, di abad 15, hiduplah sebuah keluarga dengan anak-anaknya yang berjumlah 18orang. Ya, delapan belas! Sang ayah, seorang pedagang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari di tokonya untuk menghidupi keluarganya. Apa saja yang berguna dan menghasilkan uang ia kerjakan.

Walaupun kondisi keluarga itu Senin-Kemis, nyaris tanpa harapan, dua anak sulungnya mempunyai cita-cita tinggi. Albrecht Durer dan adiknya Albert Durer bercita-cita suatu saat kelak mereka akan menjadi seniman terkenal, kuliah di akademi tinggi di Nürnberg, walau pun mereka tahu ayah mereka secara finansial tidak akan mampu membiayai kuliah di sana.

Setelah diskusi yang panjang di suatu malam di tempat tidur mereka yang penuh sesak, kedua anak laki-laki tertua ini akhirnya membuat kesepakatan. Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yang menang dialah yang melanjutkan studi ke akademi untuk mengejar impian menjadi seniman terkenal. Yang kalah akan tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di pertambangan di dekat rumah mereka, dan dengan penghasilannya dari bekerja itu, membiayai kuliah saudaranya yang akan menjadi seniman hebat. Diharapkan, setelah kuliah empat tahun, sang seniman besar itu sudah bisa kembali dan membiayai adik-adiknya yang lain.

Mereka melemparkan koin. Hasilnya? Albrecht Durer memenangkan undian dan kuliah ke akademi di Nürnberg. Albert tinggal di kampung dan bekerja sebagai buruh tambang, pekerjaan yang cukup berbahaya kala itu. Selama empat tahun ke depan, ia membiayai saudaranya yang menempuh pendidikan di akademi.

Di akademi, Albrecht ternyata menjadi bintang. Lukisan-lukisannya, ukiran kayunya dan lukisan minyaknya jauh lebih baik daripada karya para profesornya. Dan pada saat ia lulus, ia mendapat cukup banyak uang atas karya-karyanya.

Ketika seniman muda itu kemudian kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan pesta makan malam di halaman rumah mereka untuk merayakan kepulangan Albrecht. Setelah makan malam yang panjang dan berkesan, diselingi dengan musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormat di ujung meja untuk minum bersulang bagi adik tercintanya, atas tahun-tahun pengorbanan yang memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Di akhir pidatonya, Albrecht berkata, "Sekarang, Albert, saudaraku yang sangat disayangi Tuhan, giliranmu lah. Sekarang engkau sudah punya kesempatan berangkat ke akademi di Nürnberg untuk mengejar impianmu, dan saya akan mengurus semua yang kau perlukan."

Semua kepala berpaling ke ujung meja tempat Albert duduk. Air mata mengalir di wajahnya yang pucat, menggelengkan kepalanya sementara ia menangis dan  berkata berulang-ulang, "Tidak … tidak .. tidak …. tidak." Albert bangkit dan menyeka air mata dari pipinya. Dia melirik ke meja panjang di wajah-wajah yang dicintainya, dan kemudian, memegang tangannya dekat dengan pipi kanan, ia berkata pelan, "Tidak, saudaraku, saya tidak bisa pergi ke Nürnberg. Sudah terlambat untuk saya. Lihatlah … lihat apa yang saya dapatkan selama empat tahun bekerja di tambang. Tulang di setiap jari saya telah hancur. Dan akhir-akhir ini saya telah menderita rheumatoid begitu parah di tangan kanan saya, sehingga untuk memegang gelas dan bersulang kembali untuk mu pun aku tak bisa. Apalagi untuk memegang kuas dan melukis garis-garis halus di kanvas. Bagi saya itu sudah terlambat."

Kini, hampir lima abad sudah berlalu. Ribuan lukisan potret dan karya lainnya dari Albrecht Durer telah beredar dan menghiasi banyak dinding dan ruang di seluruh dunia. Dan hampir dapat dipastikan, sebagian besar orang pernah melihat, bahkan mungkin memiliki reproduksi dari salah satu lukisannya yg sangat terkenal, yakni gambar yg diberi judul: "The Praying Hands." Tangan yg berdoa..

Berikut sejarah di balik gambar itu. Suatu hari, untuk memberi penghormatan kepada Albert atas semua yang telah dikorbankannya, Albrecht Durer dengan susah payah menghela tangan adiknya itu, meluruskan jari-jarinya dan kemudian melukisnya. Ia memberi judul lukisan itu "Hands," tetapi seluruh dunia melihat lukisan itu jauh dari sekadar 'Hands' melainkan suatu persembahan cinta yang tulus, tangan yang berkorban dan memohon. Itu lah sebabnya ia lebih terkenal dengan judul "The Praying Hands." Tangan yang bekerja, berkorban demi mewujudkan sebuah cita-cita dan doa. Itu lah Tangan yang Berdoa. 🙏🏻