Thursday, November 1, 2012

Pura-Pura

Seorang anak kepada ibunya: "Bu, saya minta kuwenya." Kata sang ibu: "Cuci tangan dulu, makan malam dulu, baru nanti makan kuwe." Besoknya, kembali sang anak meminta kuwe pada ibunya. Sang ibu kembali berkata: "Cuci tangan dulu, makan malam dulu, baru nanti makan kuwe." Hari berikutnya kembali sang anak meminta kuwe kepada ibunya, ibunya jengkel berkata:" Kan sudah Ibu bilang nak, cuci tangan du
l
u, makan malam dulu, baru nanti makan kuwe." Besoknya lagi, sang anak datang kepada ibunya, dan berkata: " Bu, saya sudah cuci tangan, apakah makan malam sudah siap?" Walaupun sebenarnya maksud sang anak adalah meminta kuwe.

Setelah dewasa dan telah menikah, sang anak diajak untuk menonton bola oleh temannya Jumat nanti. Dia pulang, dan kepada istrinya tidak berani bertanya: "Apakah ok kalau saya menonton bola Jumat nanti dengan teman2", tapi yang dia tanyakan adalah: " Istriku, apakah jumat nanti kamu ada acara?"

Keadaan membuat kita merubah kalimat kita, membuat kita berbohong, membuat kita menyelimuti maksud sebenarnya dari hati kita, membuat kita berpura2, dan mencari jalan aman dalam menyampaikan sesuatu. Kultur kita justru membenarkan sebuah penipuan halus, yang justru sering membuat kita tidak lagi jujur pada hati dan maksud kita yang sebenarnya.

Hasil riset Sandler Training menunjukkan orang baru mau mengatakan maksud sebenarnya pada pertanyaan yang ketiga, karena dua pertanyaan pertama biasanya hanya akan dijawab dengan basa basi dan jawaban kabur yang menyelimuti maksud sebenarnya.

*Tanadi Santoso
http://koningsberg.blogspot.com/
http://sugiatno-ceritalucu.blogspot.com/