Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Monday, October 22, 2012


Tradisi Jepang, Kasih Seorang Ibu

Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yg sudah tua ke hutan.
Mereka yg dibuang adalah orang tua yg sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak²y.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yg berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak sedikit pikun.
Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya.
Si Ibu yg kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya disepanjang jalan yg mereka lalui.

Sesampai didalam hutan yg sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tsb dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih, karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.
Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata :
" Anakku...
Ibu sangat menyayangimu...
Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku.
Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun.
Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yg kita lalui dengan ranting2 kayu.
Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah..."

Setelah mendengar kata2 tsb, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang kembali ke rumahnya.

Pemuda tsb akhirnya merawat Ibu yg sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

NB :
"Orang Tua" bukan barang rongsokan yg bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya.
Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya "Orang Tua"lah yg mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah.

"Orang Tua" kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua kita.
Namun "Orang Tua" kita akan tetap mengasihi kita.
Selamanya...
Sampai mereka menutup mata...

Mulai sekarang mari kita lebih mengasihi "Orang Tua" kita selagi mereka masih hidup...

Saturday, October 13, 2012

Harus Dibaca!!

Menilai seseorang dari tampilan luar membuat banyak orang salah langkah dalam kehidupannya. Banyak testi yang menceritakan terkecoh dengan penampilan luar, sehingga ditipu dalam bisnis. Penampilan meyakinkan, dikirain pengusaha beneran, taunya semuanya bohong, dan sejumlah uang pun dilarikan.
Ditipu saat memilih pasangan hidup, dikirain pemuda kaya raya, gonta ganti mobil saat ngapel, eh taunya waktu PDKT pinjem mobil yang lagi dititip di showroom. Sudah terlanjur married ....hanya bisa menangisi nasib ...
Sebaliknya, kita kehilangan kesempatan diberkati, saat terkecoh dengan penampilan luar yang biasa-biasa dari seseorang. Saat pengkhotbah yang akan menyampaikan Firman Tuhan bukanlah seseorang yang terkenal, kita nggak membuka hati sepenuhnya, padahal dia punya pengalaman hidup yang luar biasa dengan Tuhan.
Demikian juga bila terpengaruh dengan penampilan luar membuat kehilangan kesempatan mengambil keputusan yang baik. Dan hampir saja ini terjadi di Britain's Got Talent episode 11 April 2009 (acara sejenis dengan America 's Got Talent) yang ditayangkan di Inggris. Yang membedakan acara ini dengan American Idol, peserta menampilkan aneka talent, tidak hanya menyanyi, bisa juga dancing, comedy, sulap, dll, dan tidak ada batasan umur. Yang penting special talent.
SHE's an EXTRAORDINARY SINGER!!!
Maksudnya extraordinary disini bukanlah pujian, tapi cemoohan. Karena gambaran seorang penyanyi sangatlah jauh dari penampilan luar SUSAN BOYLE. Teman-teman bisa lihat sendiri, umur yang sudah tua (untuk memulai karir di musik, 47 tahun). Gendut pula, ... lihat saja dagunya yang berlipat.. Diperburuk dengan rambut keriting yang jauh dari gambaran sentuhan hair stylist plus bonus alis yang sangat tebal bagaikan alis Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Sovyet. Dan lengkap sudah gambaran 'ugly' dengan penampilan baju yang sangat out of fashion. Dan Susan Boyle dengan berani mendaftarkan dirinya sebagai peserta Britain 's Got Talent. Mungkin mayoritas orang akan berteriak "gila.... PD banget... udah ngaca belum?.... Tahu diri dikit 'napa sih??? Bikin capek juri aja"
Dengan kepala tegak Susan melangkah ke stage, dan siap untuk ditanya-tanya juri. OMG !!... menjawab pertanyaan juri aja nggak lancar. Simon Cowell (juri yang paling killer) bertanya "Berapa umurmu?" Jawaban "47 tahun" membuat seluruh penonton yang hadir bergumam "ooooohh....".
Dan tayangan televisi menunjukkan betapa hampir semua orang di ruangan itu sinis dan mencibir kepadanya. Termasuk ke 3 juri, yang sepertinya berniat mendengarkan Susan bernyanyi dengan setengah hati. Everybody judged Susan by her performance.
SHE HAS A DREAM !!!
Susan menyanyikan "I DREAMED A DREAM" dari Les Miserables.
Begitu intro musik yang bak orkestra mengalun.... Susan mulai membuka mulutnya..
"I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving
.....
I had a dream my life would be
So different from the hell I'm living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed"
Tiba-tiba seisi ruangan terdiam. Terkesima. Terpukau. Tanpa kecuali. Penonton dan ke 3 juri hanya bisa mengangakan mulutnya. Ternyata dibalik penampilan luar Susan yang 'buruk' tersimpan vocal yang luar biasa bening dan indah. Senyuman yang mencibir berganti menjadi mulut yang terbuka karena terperanjat. Speechless. Oh my God.... oh my God... it's so beautiful.
Susan menuai standing ovation tidak hanya dari penonton yang tadinya sinis kepadanya, tapi juga dari ke 3 juri yang sulit untuk ditaklukkan dengan a so-so talent. Ketika dievaluasi oleh juri, Piers Morgan berkata bahwa penampilan Susan Boyle adalah kejutan terbesar yang pernah dialaminya dalam talent show ini.
Amanda Holden, .... sepanjang lagu dinyanyikan hanya bisa mengangkat tangan dan melongo, dengan jujur berterus terang bahwa dia juga termausk orang yang sinis terhadap kemampuan Susan. Dan kini Amanda berkata "it's a complete privilege" dapat menyaksikan Susan bernyanyi di acara talent show ini.
Simon Cowell yang sangat jarang memuji (teman-teman pasti sudah familiar dengan komentar-komentar pedasnya di American Idol) mengakui bahwa ucapannya di awal sebelum Susan menyanyi adalah benar. Susan memang extraordinary. Susan sungguh luarbiasa. Tapi bukan luarbiasa buruknya, melainkan luar biasa baiknya. Hmmm... pinter ngeles juga yah si Simon..
And Susan got 3 biggest YES !!! from all the judges. Dan dapat melanjutkan perjuangannya ke babak berikutnya.
SHE GOT BIG HIT ON YOUTUBE !!!
Ketika menyaksikan klip Susan di YouTube, sepanjang lagu bulu kuduk saya berdiri, dan di ujung lagunya, saya lupa kalau saya sedang berada di depan laptop, ... saya bertepuk tangan untuk Susan, dan saya juga mau standing ovation untuknya. Sungguh loh... menyaksikan Susan bernyanyi dari awal sampai akhir membuat hati saya berdebar dan berkobar. God... she's really amazing.
Pasti ada sesuatu yang istimewa tentang Susan, menghasilkan penampilan yang sangat spektakuler dan membuat orang lupa akan penampilan luarnya yang sangatlah tidak istimewa. Bahkan seorang Demi Moore pun menangis melihatnya di YouTube. Seminggu sebelum penampilannya, Susan hanya seorang yang tidak terkenal dan tidak punya pekerjaan, tinggal sendirian di pedesaan kecil di Scotland, ditemani kucingnya Pebbles. Dan sekarang? Bak seorang superstar yang sanggup membuat Demi Moore sampai berkata bahwa ia adalah salah seorang fans terbesar Susan.
Ingin tahu fenomena yang lebih dahsyat lagi? Kecanggihan teknologi membuat klip Susan disaksikan orang sejagad raya. 48 jam setelah penampilannya, sudah 4 juta orang yang menyaksikannya di YouTube. Dan ketika saya melihatnya, saya tercatat sebagai orang yang mendekati angka ke 18 juta yang menyaksikannya. Dan sekarang dikatakan sudah hampir 100 juta orang menontonnya di YouTube. Bandingkan dengan 18 juta orang yang menonton victory speech Obama di hari inaugurasinya. Bukankah ini sangat fenomenal? Semua orang dengan rajin menshare video ini ke teman-teman mereka di jejaring dunia maya. Dan lihatlah di bagian comment mereka, betapa banyak orang yang beroleh pengharapan lewat penampilan Susan.
Impossible is nothing.
Saya merenungkan kembali. Mungkin banyak orang bisa bernyanyi lebih baik dari Susan (saya amati di bagian akhir, suaranya agak goyang, kurang perfect), lebih muda, lebih menarik, tapi belum tentu menghasilkan fenomena seperti Susan. Dalam Tuhan kita mengenal 'apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai'. Saya berpikir keras, apa yang Susan tabur dalam hidupnya sehingga dia menuai hasil yang sangat luarbiasa dalam hidupnya ? God.... saya harus tulis sesuatu tentang Susan. Dan saya pun menggoogle semua informasi tentang Susan.
Tampilan di layar TV saat ia menyanyi adalah: "SUSAN BOYLE" unemployed, 47 years Itu kalau kita menjudge buku dari sampul luarnya. Tapi bila kita membacanya dulu, baru memberikan penilaian?
INI YANG SAYA BACA DARI "BUKU KEHIDUPAN" SUSAN .
* Susan adalah seorang pengangguran, dan berumur tidak muda lagi. Dia adalah seorang churchgoer yang taat, dan melayani sebagai volunteer di gerejanya. Banyak orang yang melihat dia sebagai pengangguran, tapi saya percaya seorang yang bekerja sukarela melayani Tuhan di rumah Tuhan, di mata Tuhan bukanlah seorang pengangguran. Dan Tuhan berjanji tidak pernah menahan upah dari orang yang layak menerimanya.
"Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri, firman Tuhan semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia." (Maleakhi 3:17)
Dari dulu Susan bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional, tetapi ia tidak dapat mewujudkannya. Terjadi penundaan. Kenapa? Karena ia mendedikasikan hidupnya untuk merawat ibunya yang sudah tua. Sehingga ia hanya bisa membatasi penampilan menyanyinya hanya di gereja sebagai anggota choir, dan di karaoke. Padahal menurut saya itu budaya yang tidak lazim di dunia Barat yang sangat individual, yang biasa mengirim orang tua mereka yang sudah lanjut usia ke panti jompo. Saya percaya Susan mengebelakangkan keinginannya menjadi penyanyi profesional yang didambakannya karena mengasihi dan ingin berbakti kepada orang tuanya.. Firman Tuhan berkata, "Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu lebih buruk dari orang yang tidak beriman." (1 Timotius 5:8)
Susan mengikuti talent show ini karena ingin memenuhi pesan & harapan ibunya yang meninggal 2 tahun yang lalu. Ibunya, Bridget, ingin Susan melakukan sesuatu dalam hidupnya. Susan memenuhi pesan ibunya karena ia menghormatinya. "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12)
Tuhan tidak pernah berhutang kepada orang yang melakukan kebenaran firmanNya. Dan itu terbukti kan ? Susan sendiri tidak pernah menyesal dengan apa yang dilakukannya sebelumnya dalam hidupnya, walaupun ia mengalami penundaan puluhan tahun. Susan percaya bahwa umurnya yang sudah matang dan pengalaman hidupnya adalah assetnya yang terbesar. Semua yang sudah dia lalui dalam hidupnya memberikan iman dalam kemampuannya. Dan ia berkata "I think I am ready for it."
Saat ia ready, dan bernyanyi di Britain 's Got Talent, sebenarnya Susan sedang MENYANYIKAN KEHIDUPANNYA. "I dreamed a dream" adalah nyanyian tentang mimpi-mimpinya yang tertunda dan harapan-harapannya. . Itu yang menyebabkan penampilannya saat itu berbeda dari yang lain. Memukau semua orang dalam ruangan itu, dan memukau setiap orang yang menyaksikan videonya, termasuk saya.
You see.... apa yang Susan tabur itu yang Susan tuai. Di balik kemuliaan besar yang dia terima sekarang pasti ada penderitaan besar sebelumnya. (Sanggupkah teman-teman membayangkan seseorang yang unknown before mendadak 5x lebih populer dibanding Presiden Obama di YouTube dalam tempo seketika? Dan kelipatan ini kemungkinan akan semakin bertambah.)
Seperti yang Susan katakan, apa yang dia alami dalam hidupnya, segala penderitaan dan penundaan membuat imannya semakin bertambah. Dan Tuhan yang besar memang sanggup mewujudkan mimpinya,yang bagi orang lain adalah impossible. Terbiasa dicemooh sejak masa kecil, (bahkan sampai menjelang menyanyi I Dreamed A Dream di pentas Britain's Got Talent dia masih mengalaminya) , tidak mengurungkan niatnya untuk mewujudkan mimpinya.
Bahkan baru-baru ini terungkap, 2 bulan yang lalu, bulan February 2009, Susan ditolak oleh pimpinan choir Cantilena Choir di Livingston, saat ia ingin bergabung. Saat ini sang pemimpin choir hanya bisa berkata, "It was a shock when I saw her on the television.
HE HAS MADE EVERYTHING BEAUTIFUL IN HIS TIME
Semuanya memang indah pada waktuNya. Kalau Susan diterima di choir tersebut, mungkin Susan tidak akan pernah menjadi fenomena yang menginspirasi banyak orang. Dua bulan lalu mungkin Susan masih bersedih karena penolakan itu, tetapi sekarang hidupnya bak selebriti. Rumahnya tidak pernah sepi dari fans dan media televisi yang seperti berlomba untuk mewawancarainya.
When the time comes, tidak ada satupun yang bisa menghalanginya. Banyak orang termasuk saya yang dikuatkan melalui kesaksian ini. Dan pengenalan saya akan Tuhan juga semakin bertambah melalui kejadian yang tidak biasa ini. Besar harapan saya, teman-teman yang sedang mengalami penundaan, yang sedang merasa mimpinya tidak bisa diwujudkan lagi, kembali bangkit dan berharap lagi.
We'll wait until the time comes ....
Kalau Susan Boyle bisa.... saya juga bisa. Amen.


























5 Macam Penyesalan

Wednesday, October 10, 2012

Kosong

» Ketika lahir dua tangan kita kosong.O:) ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...

~» Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa²...O:)

~» Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan...>:/

~» Jangan minder karena miskin dan hina...:$

~» Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman...O:)

~» TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun tinggi kedudukan kita...O:)

~» TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita...:)

~» Karena kita hadir tidak membawa apa-apa dan kembali juga tidak membawa apa-apa...O:)

~»Datang ditemani oleh Tangis.....
Pergi juga ditemani oleh Tangis.....

Tuesday, October 9, 2012

Komunikasi

Hubungan baik bisa putus karena?? =-? =-? =-?
Kadang kita sama-sama berpikir:
=-? =-? =-?
"Ah... mungkin dia lagi sibuk..."
Akhirnya ga jadi telepon?
Terkadang, kita berpikir takut mengganggu...
Lama-kelamaan.., Jadi cuek..,
Akhirnya muncul pemikiran:
Ngapain sih aku yang hubungi dia duluan?.
Kalo sudah begini, cinta kasih dalam pertemanan sudah berkurang..?
Akhirnya tidak ada lagi hubungan..,
semuanya jadi lupa...!!!

Komunikasi sangatlah penting dalam hubungan dengan Tuhan, teman, pasangan, keluarga, maupun dgn atasan:)

Biar kita selalu dekat dengan semua..
Itu menjadi alasanku, kenapa aku mengirimkan message ini.
Itu tandanya, aku nggak pernah lupa sama kamu... :).
Tegur aku jika aku mulai sombong..
Tegur aku jika aku mulai angkuh..
Tegur aku jika aku mulai salah..

Krn aku msh sangat butuh teman seperti kamu hari ini, esok dan selamanya..

Contohlah semut " SESIBUK" apapun mereka bekerja selalu menyempatkan utk menyapa semut lainnya.....
"Tak kenal maka tak sayang"

Saturday, October 6, 2012

Nasehat Bob Sadino

"5 tahun dari sekarang Anda akan menyesali banyak hal yang tidak Anda lakukan saat Anda bisa, dibanding dengan hal yang Anda coba meskipun gagal."
Bob Sadino

Tuesday, October 2, 2012

Jawaban Tuhan

Tuhan,aku ingin tahu: </3 Mengapa Kau ijinkan hal-hal yang tidak adil terjadi di dunia ini..?

:& Mengapa aku harus memberikan pipi yang kanan jika ditampar pipi yang kiri..?

<3<3 Mengapa aku harus mencintai musuhku..?

:( Mengapa sepertinya aku harus selalu mengalah walau dirugikan..?

</3 Mengapa aku harus bersabar atas banyak hal yang tidak menyenangkan..?

:/ Mengapa Kau izinkan aku kehilangan,dan gagal, namun aku harus tetap bersyukur..?

3-| Tolong ƮƲ♓Δn ,jawab aku biar aku mengerti,karena aku merasa ŝåʼnƍª† lelah....
menanggung §ε♏µå ini.. ª̤Ќϋ ♏뮪̤så beban hidupku terlalu berat tuk kujalani ƮƲ♓Δn ..
*FR* *CI* *FR* *CI* *FR* *CI* *FR* *CI* *FR* *CI* *FR*
Balasan dari Surga :
AnakKu terkasih,tidakkah kau sadari Ъãĥω̃ã mataKu ∫èƖάƖü tertuju padamu..?

Aku tahu saat kau diperlakukan tidak adil..
Aku melihat saat air matamu mengalir menahan perasaan jengkel yang tak terucapkan..
Aku Ъãĥǩãπ ikut merasakan kepedihan hatimu ŝάάτ kau dikecewakan..

♥ Tapi tahukah kau bahwa Aku mengasihimu saat Aku melihat kau memaafkan orang lain yang menyakitimu,dan bukannya membalas perbuatan mereka..

Dan melihatmu bersabar atas sikap jahat yang mereka tujukan padamu membuatKu semakin mengasihimu..

Aku ijinkan semua itu terjadi supaya kamu smakin hari makin di murnikan dan sempurna menyerupai Aku..

Dan pada saatnya Aku akan menggantikan semuanya, dan memberkatimu sesuai kemuliaan Чǝлб KUnyatakan...

Aku akan membukakan bagimu pintu-pintu berkat di mana tak ada seorangpun bisa menutupnya..
Dan Aku akan memberikan padamu kesempatan-kesempatan emas di mana tak seorangpun bisa mengambilnya..

Dan Aku telah melihat btapa jahatnya perbuatan mereka,biarkanlah karna pembalasan adalah hakKu..

=-? Jadi,anakKu janganlah kau berpikir bahwa Aku mengabaikanmu,karena sesungguhnya AKU senantiasa menyertaimu...sbab engkau berharga di mataKU dan tak ada shelai rambutpun jatuh tanpa seizinKU

Burung

Seorang pemburu berhasil menangkap seekor burung. Sang burung berkata kepada pemburu: "Lepaskan aku, dan akan kuberikan 3 nasihat kepadamu." Sang pemburu ragu2, tapi akhirnya setuju juga untuk melepaskan sang burung untuk ditukar dengan 3 nasihat.

Ketika dilepas, sang burung memberikan nasihat pertamanya: "Relakan apa yang telah terlepas dari tanganmu, betapapun berharganya hal itu." Pemburu berpikir sejenak, dan merasa nasehat ini berguna untuk dirinya dalam menjalani hidup yang tidak menentu ini.

Sang burung terbang menjauh dan memberi nasihat kedua: "Janganlah terlalu percaya pada hal2 yang terlalu baik dan tidak masuk akal sehat." Pemburu merasa menarik juga nasihat ini, dan baik untuk kehidupannya. Dia tersenyum dan merasa senang telah menukar sang burung dengan nasihat2 bijak ini.

Sang burung terbang keatas pohon dan berkata: "Pemburu bodoh, sebenarnya ada harta kekayaan berlimpah padaku, didadaku ada dua permata besar yang sangat berharga, kalau saja kau bunuh aku, dan kau jual permata ini, kau akan menjadi orang yang sangat kaya raya." Sang pemburu sangat marah, dan sangat menyesal telah melepaskan sang burung. Ingin dia mengejar lagi dan menangkap lagi sang burung, tetapi pohon itu terlalu tinggi dan terlalu jauh darinya.

Sambil menekan amarah dan rasa sesalnya sang pemburu berkata: "Ayo berikan nasihatmu yang ketiga." Sang burung pun berkata: "Ah betapa tololnya kamu, baru saja kuberikan dua nasihat berharga, telah kau abaikan keduanya. Lihatlah dirimu sendiri, kaulepaskan diriku, dan masih kau sesali pula, dan masih juga kau percaya pada hal2 yang diluar akal sehat. Inilah nasehatku ketiga: Janganlah hidup dengan bodoh. Gunakan akal pikiranmu. Semoga hidupmu lebih baik." Dan sang burungpun terbang pergi meninggalkan sang pemburu yang termangu.

*Tanadi Santoso

Tolstoy

Penulis Rusia yang hebat, Leo Tolstoy, pada suatu hari berjalan jalan, dan merasa kasihan pada seorang pengemis. Maka dia berhenti, dan ingin memberi uang kepada si pengemis. Ketika dia merogoh kantongnya, baru disadarinya dia tidak membawa uang.

Maka dijabatnya tangan si pengemis sambil berkata: "Saudaraku jangan marah, maafkan aku, hari ini aku tidak membawa uang." Si pengemis tiba2 matanya berbinar binar, dengan syukur dan penuh kebahagiaan dia berkata: " Aku tidak mungkin marah, perkataanmu telah merupakan penghargaan yang terbesar yang aku pernah rasakan selama ini."

Leo Tolstoy memang tidak memberi uang, tapi dia telah mengembalikan harga diri sorang pengemis yang biasanya selalu di rendahkan masyarakat. Dan nilai kata2 satu kalimat Tolstoy telah memberikan nilai yang jauh lebih besar dari uang yang bisa diberikan kepada pengemis.

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, mempunyai kesamaan yang mendasar. Semuanya ingin dipuji, ingin diakui, ingin dihargai, ingin didengarkan, dan ingin dihormati.

Tidak peduli dia adalah pengemis, ataupun pebisnis, ataupun pengusaha kaya, selalu mempunya ego dan keinginan yang sangat manusiawi ini. Dan rahasia sederhana ini pasti akan meningkatkan kemampuan anda dalam berhubungan dengan siapapun didalam network anda.

Kita harus belajar melihat siapapun sebagai manusia yang mempunyai kelebihan sendiri dendiri. Kita harus mampu menghargai orang lain, dari dalam hati kecil kita. Tulus menganggap orang lain setara, atau bahkan lebih dari kita. Dengan demikian maka segala urusan komunikasi akan selesai dengan sendirinya. Dan anda akan lebih mudah mencapai sukses anda.

Kehidupan

Kehidupan adalah sungai yang mengalir, melewati batu padas, menyeret limbah dan kotoran, tersaring oleh pasir bebatuan, menukik pada curamnya tebing, terkadang tenang terkadang deras, dan semuanya menuju pada lautan.

Steve Jobs

"Waktu Anda terbatas, jangan sia siakan untuk menjalani kehidupan seperti orang lain. Jangan terjebak pada dogma - hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan opini orang lain menenggelamkan suara di dalam anda. Yang terpenting, beranilah mengikuti hati dan intuisi anda sendiri, yang sesungguhnya sudah tahu sejak awal apa keinginan anda. Hal lain tidaklah penting" ~Steve Jobs.

Steve Jobs Lagi

Steve Jobs lagi: Ya, kita harus berani mengambil resiko kehidupan dan berjuang secara maksimal mengejar impian kita, karena sebenarnya ujung perjalanan ini hanyalah tanah 2x3 meter saja. Selamat berkarya untuk teman2 semua.

Harga dan Nilai

Barang2 yang mahal sering tidak punya manfaat lebih: Berlian, hanya untuk bergensi, asli dan sirkonik tidak beda. Tas LV 25 juta, sama manfaatnya dengan tas 500 ribu. Mobil 3 milyard, fungsinya persis yang 300 juta. Ada juga, lukisan senilai 5 milyar, koleksi akik antik 500 juta, dan seterusnya. Dalam hidup ini, harga adalah sebuah hal yang sangat tidak jelas. Hal2 yang berharga dalam kehidupan ini kebanyakan gratis: Udara yang kita hirup, pemandangan senja yang sangat mentakjubkan, kesehatan tubuh, persahabatan sejati, dan senyum tawa orang2 disekeliling kita.

Kesalahan adalah pembelajaran menuju sukses

Kata Einstein: "Kalau anda tidak pernah melakukan kesalahan, maka anda tidak pernah melakukan sesuatu yang baru." Kesalahan adalah bagian dari proses untuk mencapai kesuksesan. Selalu ada kesalahan ketika mencoba sesuatu yang baru, ini adalah bagian dari proses pembelajaran menuju sukses. Sering sekali sukses muncul tiba2 ketika kita sudah melakukan kesalahan. Selamat mencoba untuk selalu melakukan sesuatu yang baru.

Sukses dengan perjuangan panjang dan keuletan

Kalau memang begitu mudah berbisnis "sesuatu": untung besar, tanpa modal tanpa hutang, tanpa resiko, tidak perlu kerja keras, "financial freedom", semua orang bisa, dan seterusnya. Mengapa mereka tidak berbisnis itu saja sendiri, dan menjadi kaya raya? Banyak yang menegur ketika saya bilang "Berbisnis itu sulit", karena semua orang "berharap" bahwa sukses itu mudah. Kenyataannya tidak pernah ada "Sukses yang mudah". Semuanya butuh perjuangan panjang dan keuletan yang luar biasa. Kerja, kerja, dan kerja.

Saturday, February 18, 2012

Pasangan Terbaik

Pasangan terbaik itu seperti SEPASANG SEPATU:
1. Bentuknya tak persis sama namun SERASI.
2. Saat berjalan tak pernah kompak tapi TUJUANNYA SAMA.
3. Tak pernah bisa ganti posisi, namun SALING MELENGKAPI.
4. Selalu SEDERAJAT tak ada yang lebih rendah atau tinggi.
5. Bila yang satu HILANG yang lain TAK MEMILIKI ARTI.

Friday, February 17, 2012

The Green Thing


In the line at the supermarket, the cashier told an older woman that she should bring her own grocery bags because plastic bags weren't good for the environment.

The woman apologized to him and explained, "We didn't have the green thing back in my day."

The cashier responded, "That's our problem today. Your generation did not care enough to save our environment."

He was right -- our generation didn't have the green thing in its day.

Back then, we returned milk bottles, soft drink bottles and beer bottles to the store. The store sent them back to the plant to be washed and sterilized and refilled, so it could use the same bottles over and over. So they really were recycled. But we didn't have the green thing back in our day.

We walked up stairs, because we didn't have an escalator in every store and office building. We walked to the grocery store and didn't climb into a 300-horsepower machine every time we had to go two blocks. But she was right. We didn't have the green thing in our day.

Back then, we washed the baby's nappies because we didn't have the throw-away kind. We dried clothes on a line, not in an energy gobbling machine burning up 240 volts -- wind and solar power really did dry the clothes. Kids got hand-me-down clothes from their brothers or sisters, not always brand-new clothing made on the other side of the world. But that old lady is right; we didn't have the green thing back in our day.

Back then, we had one TV, or radio, in the house -- not a TV in every room. And the TV had a small screen the size of a handkerchief (remember them?), not a screen the size of the state of Western Australia. In the kitchen, we blended and stirred by hand because we didn't have electric machines to do everything for us. When we packaged a fragile item to send in the mail, we used a wadded up old newspaper to cushion it, not Styrofoam or plastic bubble wrap. Back then, we didn't fire up an engine and burn gasoline just to cut the lawn. We used a push mower that ran on human power. We exercised by working so we didn't need to go to a health club to run on treadmills that operate on electricity. But she's right; we didn't have the green thing back then.

We drank from a fountain when we were thirsty instead of using a cup or a plastic bottle every time we had a drink of water. We refilled fountain pens with ink instead of buying a new pen, and we replaced the razor blades in a razor instead of throwing away the whole razor just because the blade got dull. But we didn't have the green thing back then.

Back then, people took the tram or a bus and kids rode their bikes to school or walked instead of turning their mothers into a 24-hour taxi service. We had one power point in a room, not an entire bank of sockets to power a dozen appliances. And we didn't need a computerized gadget to receive a signal beamed from satellites 2,000 miles out in space in order to find the nearest pizza joint.

But isn't it sad the current generation laments how wasteful we old folks were just because we didn't have the green thing back then?

Please forward this on to another selfish old person who needs a lesson in conservation from a smartass young person.

Remember: Don't make old people mad. We don't like being old in the first place, so it doesn't take much to piss us off.

A Perfect Friends

Don't be Racist!

Minoritas by Jaya Suprana


Gus Dur memang benar. Ternyata, hidup sebagai minoritas itu susah. Maka, perjuangan Gus Dur membela kaum minoritas di persada Nusantara tercinta ini sungguh luhur.

Di luar pilihan dan kehendak diri sendiri, saya dilahirkan di bumi Indonesia sebagai manusia yang secara antropologis tergolong etnis Cina. Akibat lahir-batin bertumbuh-kembang di keluarga yang bersikap dan berperilaku budaya Jawa, semula saya tidak sadar bahwa berdasarkan statistik populasi Indonesia saya tergolong minoritas.

Semula saya merasa sama saja seperti warga negara Indonesia lain sebab perilaku saya memang lebih berbudaya Indonesia ketimbang Cina. Saya tidak bisa makan pakai sumpit, tidak bisa berbahasa Cina nasional (Mandarin) ataupun dialek, tidak setuju komunisme yang dianut RRCina, lebih mengagumi Semar ketimbang Jilayhud, meyakini Anoman lebih sakti ketimbang Sun Go Kong, dan sukma lebih tergetar di saat mendengar "Indonesia Raya" ketimbang lagu kebangsaan RRCina yang namanya saja saya tidak tahu. Di saat mendengar alunan lagu "Indonesia Pusaka", saya tidak pernah mampu menahan tetesan air mata terharu. Repertoar konser keliling saya di delapan belas negara hanya musik Nusantara tanpa musik Barat apalagi Cina. Pendek kata, akibat yakin bahwa saya warga negara Indonesia sejati, maka saya gigih menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia!

Hanya saat mengurus keperluan administratif, saya baru tersadar bahwa meski de jure sudah resmi menjadi warga negara de facto saya diperlakukan seperti bukan warga negara Indonesia. Terutama saat huru-hara rasialis yang terjadi menjelang ataupun pascareformasi secara berkala, mendadak saya sadar bahwa ternyata saya keturunan Cina.

Meski tanpa salah apalagi dosa —kecuali kebetulan dilahirkan di Indonesia oleh ibunda keturunan Cina—saat huru-hara rasialis memang lebih baik saya menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh para huru-harawan yang mendadak bernafsu ingin membasmi habis mereka yang tampak seperti orang Cina.

Teman-teman suku Manado, Dayak, atau Sunda sebaiknya juga jangan menampakkan diri saat para huru-harawan sedang dalam kondisi amarah membara karena warna kulit dan bentuk mata mereka mirip Cina! Sebaliknya, ayah saya yang kebetulan tidak bermata sipit dan berwarna kulit sawo matang malah selalu aman dan selamat dari angkara murka para huru-harawan anti-Cina.

Nasib

Saya sebenarnya sudah terbiasa sehingga pasrah didiskriminasi sebagai minoritas. Namun, mendadak datanglah Gus Dur ke marcapada untuk membela kepentingan dan menjunjung tinggi hak asasi kaum minoritas yang juga manusia. Dengan gaya tanpa peduli tentangan apa, mana dan siapa pun, Gus Dur membasmi segenap larangan terhadap semua yang berbau Cina. Mulai dari aksara, bahasa Cina, sampai hari raya Imlek. Malah sebaliknya, praktik diskriminasi ras resmi dilarang melalui UU Anti-Diskriminasi Ras.

Berkat Gus Dur, tiba masa habis-gelap- datang-terang bagi kaum minoritas warga Indonesia keturunan Cina. Euforia kegembiraan dan kebahagiaan mewarnai kehidupan warga Indonesia keturunan Cina yang sebelumnya sudah terbiasa didiskriminasi!

Namun, nasib saya sebagai minoritas belum selesai. Ternyata, saya tergolong minoritas di dalam minoritas! Di masyarakat keturunan Cina di Indonesia, juga masih ada diskriminasi. Warga keturunan Cina di Indonesia masih terpecah-pecah menjadi aneka-ragam suku, antara lain Khek, Hok Jia, Konghu, Tiochiu, Hakka, dan Babah. Ada suku yang merasa diri lebih superior ketimbang suku lain, padahal sama- sama Cina. Secara psikokultural, warga keturunan Cina di Indonesia terbagi menjadi kelompok yang menganggap diri asli dan kelompok yang dianggap tidak-asli.

Yang merasa dirinya asli, mengutamakan Tanah Leluhur sebagai tempat asal-usul para leluhurnya, sementara yang dianggap tidak-asli menjunjung tinggi Tanah Air di mana dirinya dilahirkan. Yang merasa asli menganggap dirinya berharkat-martabat lebih tinggi ketimbang yang dikelompokkan tidak-asli.

Naas, ternyata kesukuan saya tergolong ke Babah yang dianggap tidak asli. Ketidak-aslian saya masih diperparah perilaku sikap- pribadi saya yang memang telanjur lebih berbudaya Jawa ketimbang Cina. Keminoritasan pribadi saya di dalam keminoritasan kelompok keturunan Cina di Indonesia makin diperminoritas falsafah hidup saya yang bukan Konfusius, melainkan falsafah Jawa: ojo dumeh.

Alhasil, perilaku bisnis saya terlalu berat dibebani nilai-nilai etika, moral, dan moral hingga saya tidak pernah tega memanfaatkan hubungan pribadi dengan teman-teman yang kebetulan memiliki kekuasaan politik atau militer untuk tujuan bisnis. Tidak mengherankan apabila di antara sesama keturunan Cina, saya dianggap makhluk bo cwan, bo lui, bo jai, yang artinya tidak menguntungkan, tidak mendatangkan duwit, sehingga akhirnya ya tidak berguna!

Lebih parah lagi, akibat lebih membela Tanah Air ketimbang Tanah Leluhur, saya kerap dituduh durhaka, pengkhianat, dan kirno (mungkir cino).

Saya belum sempat curhat tentang nasib keminoritasan di dalam minoritas yang diperminoritas itu kepada Gus Dur sebab sang mahaguru bangsa dan mahapembela minoritas tersebut telah terlalu dini meninggalkan dunia fana ini.

Jaya Suprana Budayawan Indonesia
Sabtu, 15 Mei 2010