Showing posts with label Tanadi Santoso. Show all posts
Showing posts with label Tanadi Santoso. Show all posts

Tuesday, October 23, 2012

Apa sebenarnya rahasia sukses dalam kehidupan?

Ini adalah pertanyaan "usang" yang selalu muncul, mulai dari teman2 yang menulis di wall saya, meng-inbox saya, email saya, sampai yang menanyakan dalam seminar2. Yang tentu saja tidak ada jawaban mudah yang pasti.

Keuntungan dari seorang pembicara kelilingan adalah kesempatan kita bertemu banyak orang dan mendengarkan masukan2 mereka. Di Madiun, Udin, memberikan sebuah presentasi pendek yang menyegarkan tentang hal ini: Rahasia sukses kehidupan adah SWOT UDIN. Yang merupakan ringkasan rahasia sukses dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Saya coba berbagi esensinya disini, yang mungkin detailnya tidak sangat sama.

S= Seneng, Suka akan pekerjaan yang dijalaninya.
W= Wedi, "Takut" dalam menjalani kehidupan ini, karena dalam ketakutanlah kita berupaya lebih keras.
O= Ojo Nyerah, Jangan Menyerah, karena selalu akan ada banyak kegagalan yang kita lalui.
T= Tenanan, Bersungguh sungguh dalam mengerjakan apa saja, serius dalam mencapai tujuan.

U= Usaha, melalukan kerja terbaik untuk berupaya semaksimal mungkin.
D= Doa, bersama dengan Nya lah kita mampu lebih berkembang dan melakukan apa saja.
I= Iman, keyakinan akan kemampuan kita mencapai sukses, sebuah optimisme untuk bisa.
N= Nasib, keberuntungan tetap merupakan sebuah faktor "x" yang perlu kita amati dalam kehidupan ini.

Wedi, adalah salah satu elemen yang "unik" menurut saya. Wedi, atau "takut", adalah sebuah perasaan yang perlu ada, karena "takut" akan membuat kta menjadi lebih rajin (takut perusahaan tidak bisa profit), lebih bekerja keras (takut gagal), lebih bersikap manis (takut pelanggan tidak jadi beli), lebih hati2 dalam menjalani kehidupan (takut sengsara).

Nah itulah SWOT UDIN yang sederhana dan "masuk". Terimakasih kepada Udin, dan salam sukses untuk teman2 semua.

*Tanadi Santoso

Monday, October 22, 2012

3 Intrisic Motivation

Banyak sukarelawan, dengan beaya sendiri mau pergi ke daerah bencana, basah kuyup tanpa dibayar mau berupaya menolong orang, tidur di tenda, makan seadanya, kena penyakit kulit, sanitasi yang jelek, bekerja terus, selama dua minggu. Ketika berhasil menolong orang, berbahagia sekali, walaupun kerjanya luar biasa keras dan tidak dibayar sama sekali.
Mereka tidak membutuhkan motivator untuk mengguncangkan semangat dan berteriak teriak menggebukan dada. Mereka memiliki "sumber motivasi" dari dalam dirinya sendiri. Intrisic Motivation, atau motivasi dari dalam, memiliki kekuatan besar dalam membuat orang mau bekerja lebih keras, bahkan tanpa perlu adanya insentif.
Faktor luar, "Extrinsic Motivation", seperti bonus dan insentif, semangat menggebu gebu berteriak, bahkan senam pagi sekantor bersama, tepuk tangan ala sukses baru, high five, tentu berguna juga mengangkat semangat kita dalam bekerja, tetapi bukan untuk menjadi "motor" penggerak motivasi yang sebenarnya.
Ada 3 Intrisic Motivation yang kuat: Pertama adalah Choice and Authonomy, Pilihan dan Kebebasan. Ketika kita memilih sendiri, kita bertendensi untuk bertanggung jawab dan mengerjakan menyelesaikannya sebaik mungkin. Ketika seorang anak memilih menjadi dokter, dia akan lebih mau bekerja keras mencapai cita cita daripada "yang disuruhkan orang tuanya".
Kebebasan memilih anak buah, memilih proyek, memilih daerah relokasi kerja, merupakan salah satu bentuk insentif untuk anak buah mau bekerja lebih keras dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kebebasan tentu masih dalam koridor tata kerja yang bertanggung jawab.
Kedua adalah Competence, atau Kemampuan. Semakin mampu seseorang melakukan pekerjaannya semakin mau dia bekerja keras. Bandingkan ada 2 karyawan, satu sangat mampu mengerjakan tugasnya, satu kurang mampu, mana yang lebih bersemangat bekerja? Dengan gajih yang sama orang yang mampu mau bekerje jauh lebih keras dari pada orang yang kurang bisa.
Mengapa training and coaching, pelatihan dan pendampingan, menjadi kunci sukses perusahaan besar dan maju? Karena karyawan yang "bisa" selalu mau bekerja lembur, bekerja super keras, dan memikirkan pekerjaannya terus menerus, tanpa membutuhkan insentif ataupun motivasi lain dari luar.
Ketiga adalah Relatedness atau Meaning, Keterikatan atau Makna hidup. Keterikatan emosi kita dengan sebuah daerah, kebiasaan, atau keadaan: misalkan artis yang terkena Aids, mau mati2an bekerja dan mendonasikan semua jernih payahnya untuk pengembangan penyembuhan Aids. Relatedness juga termasuk hoby, kebiasaan, kesukaan akan bidang usaha. Kerja keras menolong ke daerah bencana juga termasuk dalam motivasi pencarian Makna hidup sebagai sesama manusia yang menolong orang lain.
Kalau kita bisa memberikan makna pada pekerjaan kita: Membuat tukang batu sadar dan meyakini bahwa kerjanya adalah membangun Masjid Suci/ Kathedral termegah/ Kuil terhebat, akan membuat tukang batu itu melakukan dengan lebih semangat dan berkerja lebih baik. Ingatan bahwa kita bekerja untuk mensukseskan anak kita, negara kita, akan membuat kita mau bekerja keras dan berkurban untuk itu. Intrisic motivation ketiga ini mempunyai kekuatan terbesar dalam membuat orang mau bekerja dengan lebih keras lebih baik.
Motivasi telah menjadi kata yang umum dan bisnis yang besar, pemahaman ini masih saja jarang dikenal orang, dan jarang di manfaatkan dalam mengembangkan dan menguatkan team kerja kita. Semoga tulisan ringkas berdasarkan teori Self Determination Theory nya Edward Decy dan Richard Ryan ini bisa bermanfaat untuk teman2. Salam sukses untuk anda.
*Tanadi Santoso








Saturday, October 13, 2012

5 Pertanyaan terpenting.

Begawan Manajemen Almarhum Peter Drucker telah menulis banyak buku dan menelorkan begitu banyak teori tentang manajemen. Bahkan banyak ahli menganggap Peter Drucker adalah "penemu" Konsep Manajemen Modern yang kita anut sekarang ini.
Salah satu buku dan teori yang dibuatnya adalah tentang "The 5 Most Important Questions" yang asalnya dibuat untuk perusahaan nirlaba. Inila
h pertanyaan pertanyaan mendasar yang harus dijawab seorang CEO, manager, supervisor ataupun pebisnis.
What is Our Mission? Apa sebenarnya misi kita? Menggabungkan kemampuan kerja kita, kesempatan yang ada, dan komitmen kita untuk menghasilkan sebuah karya, maka kita harus menentukan apa yang kita akan anggap sebagai "sukses"? Laba perusahaan, kemakmuran semua karyawan, atau apa yang membuat kita mau bekerja keras? Ukuran "Key Performance Index" apa yang kita pakai sebagai tolok ukur?
Who is our customers? Siapa sebenarnya pelanggan kita? Sebuah organisasi tidak mungkin memuaskan semua orang, kita harus berani memilih pelanggan yang cocok dengan atribut perusahaan kita, dan melupakan yang bukan pelanggan. Siapa target paling utama, siapa yang kedua, dan bagaimana dinamika pelanggan dulu, sekarang, dan trend masa depan. Pemahaman yang dalam akan pelanggan kita akan memudahkan kita menjadi lebih efektip dalam melaksankan pekerjaan kita.
What does the customer value? Apa yang diinginkan pelanggan kita? Tidak mungkin kita memuaskan segalanya sepenuhnya. Kita haru tahu apa yang menjadi titik kunci dalam pelanggan kita memilih kita. Hal apa yang membedakan anda dengan pesaing anda, sehingga kalau bisa pelanggan anda hanya akan menginginkan produk anda saja, dan tidak dapat menemukannya pada kompetitor anda.
What are our results? Bagaimana hasil kita selama ini? Bagaimana hasil kerja kita selama ini, baik dari sisi penjulan, laba rugi, kepuasan pelanggan, karyawan, dan persepsi orang tentang brand kita? Apakah sudah kita nilai semua devisi perusahaan kita dengan baik? Apakah ada sistem yang jelas untuk mengecek keberhasilan kita terhadap misi yang kita inginkan? Evaluasi rutin yang baik akan memberikan tolok ukur yang jelas.
What is our plan? Apa rencana kerja kita? Semua perbaikan harus dilakukan dengan perencanaan yang baik. Dengan pendelegasian yang jelas, dengan tolok ukur yang jelas, dengan penanggung jawab yang jelas. Secara sistematik kita harus selalu memperbaik diri dan melakukan pekerjaan secara lebih efektip dan efisien. Apa yang salah, apa yang baik, dan bagaimana menjadi lebih baik dari kompetitor kita, semuanya kita lakukan dengan rencana kerja yang jelas.
5 Pertanyaan terpenting untuk bisnis kita ini juga dapat kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Mempertanyakan kembali apa sebenarnya mimpi kita, apa yang kita anggap penting dalam hidup ini. Siapa yang kita layani, dan apa yang mereka anggap penting, bagaimana kerja kita selama ini, cukup sukseskah? Lalu apa rencana kita saat ini untuk menjadi lebih "sukses"?
*Tanadi Santoso






Tuesday, October 9, 2012

Why?, Why Not?, What If?

Why?, Why Not?, What If?
Mengapa?, Mengapa Tidak?, Bagaimana Kalau?
Keingintahuan, Keberanian, dan Kreatifitas.
WHY?: Curosity, rasa ingin tahu, adalah penggerak awal yang membuat kita mau melakukan observasi, mau mempelajari lebih jauh hal2 yang mungkin bukan urusan kita. Rasa ingin tahulah yang membuat kita melakukan explorasi ke luar angkasa, atau kedasar laut. Membuat kita memahami tentang penyakit dan obat, membuat kita mengerti bumi ini bulat dan bumi mengelilingi matahari. "Mengapa" lah yang membuat ilmu pengetahun menjadi maju.
Untuk bisnis: Mengapa penjualan kita terus menurun setiap bulan? Mengapa kompetitor mampu menjual lebih murah? Mengapa banyak karyawan kita keluar dan pindah kerja ketempat lain? "Mengapa" membuat kita mau tahu, mau belajar.
WHY NOT?: Bravity, keberanian, karena kita bukan orang lemah yang tunduk pada aturan. Mengapa tidak? Kita berani melawan status quo, kita berani mencoba hal baru. Keberanian membawa nafas baru dalam prilaku kita, karena angin segar ini melawan aturan dan kemapanan, dan selalu tidak mau berdiam diri.
Mengapa tidak kita kerjakan hari ini saja semuanya? Mengapa tidak kita coba pasarkan di luar kota produk baru kita ini? Mengapa tidak kita tambah team kita? Mengapa tidak kita import barang barang baru. Mengapa tidak kita buka saja 24 jam resto ini? WHY NOT merupakan sebuah keberanian untuk melawan kemapanan, melawan kejemuan. Mengapa tidak?
WHAT IF?: Idea, kreatifitas. "Bagaimana kalau", sebuah aktifitas baru mencoba menjadikan sebuah idea kreatif menjadi inovasi. Kita masukkan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada disana. "What If" membuat inovasi baru.
Bagaimana kalau kita buat layanan yang gratis? Bagaimana kalau kita buka toko buku yang jual online di Indonesia? Bagaimana kalau besok kita mulai datang lebih pagi kekantor? Bagaimana kalau harga tiket pesawat dibuat murah untuk penerbangan sangat malam.
Ketiga kata ini bisa menjadi sahabat kita menuju sukses: WHY?: Mengapa, untuk menggali data, fakta, angka. Untuk membuat kita mau belajar lebih dalam lagi. WHY NOT?: Mengapa tidak? Untuk memberi dorongan kepada kita untuk berani melakukan sesuatu. WHAT IF? Bagaimana kalau, adalah senjata penting menciptakan inovasi. Semoga ketiga hal ini membawa semangat baru untuk anda semua.
*Tanadi Santoso



32 Menit yang Ajaib

Mengerjakan hal2 penting yang tidak mendesak adalah kritikal dalam perjalanan kita menuju sukses. Sering sekali kita malas dan menunda banyak hal yang kita yakini perlu kita kerjakan.

Untuk mengatasi kemalasan dan kebiasaan menunda: Lalukan "32 menit yang ajaib". Luangkan waktu 32 menit saja untuk mengerjakan satu hal yang sudah lama anda tunda itu. Hal penting yang tidak mendesak, hal2 yang sudah lama ingin kita kerjakan.

Kita berjanji hanya akan mengerjakan minimal 32 menit saja, tanpa interupsi sama sekali. Dan kita akan beristirahat, atau bermain, setelah itu, bila kita merasa cukup. Boleh saja disambung beberapa menit lebih, tapi jangan memaksakan. Fokus pada kata 'MULAI' dan bukan harus selesai dengan sempurna. Kita dapat kerjakan lagi besok atau lusa dengan 32 menit lagi untuk menyambung pekerjaan itu.

32 menit ini akan memberikan energi baru untuk mengerjakan hal tertunda itu, dan akan membuat kita mau mengerjakan lagi besok atau lusanya, karena komitmen waktu yang cuma 32 menit saja. Ini adalah obat mujarab kebiasaan procrastination/ penundaan.

Sehari umumnya adalah 8 jam penuh untuk bekerja. Bila kita mampu mengerjakan 3 kali saja hal2 penting dalam sehari maka kita telah menyempatkan 3x32 menit adalah 96 menit, yang merupakan 20% dari waktu kita bekerja sehari. Hal ini pasti akan mampu menyumbangkan 80% dari sukses anda.

*Tanadi Santoso

Tuesday, October 2, 2012

Burung

Seorang pemburu berhasil menangkap seekor burung. Sang burung berkata kepada pemburu: "Lepaskan aku, dan akan kuberikan 3 nasihat kepadamu." Sang pemburu ragu2, tapi akhirnya setuju juga untuk melepaskan sang burung untuk ditukar dengan 3 nasihat.

Ketika dilepas, sang burung memberikan nasihat pertamanya: "Relakan apa yang telah terlepas dari tanganmu, betapapun berharganya hal itu." Pemburu berpikir sejenak, dan merasa nasehat ini berguna untuk dirinya dalam menjalani hidup yang tidak menentu ini.

Sang burung terbang menjauh dan memberi nasihat kedua: "Janganlah terlalu percaya pada hal2 yang terlalu baik dan tidak masuk akal sehat." Pemburu merasa menarik juga nasihat ini, dan baik untuk kehidupannya. Dia tersenyum dan merasa senang telah menukar sang burung dengan nasihat2 bijak ini.

Sang burung terbang keatas pohon dan berkata: "Pemburu bodoh, sebenarnya ada harta kekayaan berlimpah padaku, didadaku ada dua permata besar yang sangat berharga, kalau saja kau bunuh aku, dan kau jual permata ini, kau akan menjadi orang yang sangat kaya raya." Sang pemburu sangat marah, dan sangat menyesal telah melepaskan sang burung. Ingin dia mengejar lagi dan menangkap lagi sang burung, tetapi pohon itu terlalu tinggi dan terlalu jauh darinya.

Sambil menekan amarah dan rasa sesalnya sang pemburu berkata: "Ayo berikan nasihatmu yang ketiga." Sang burung pun berkata: "Ah betapa tololnya kamu, baru saja kuberikan dua nasihat berharga, telah kau abaikan keduanya. Lihatlah dirimu sendiri, kaulepaskan diriku, dan masih kau sesali pula, dan masih juga kau percaya pada hal2 yang diluar akal sehat. Inilah nasehatku ketiga: Janganlah hidup dengan bodoh. Gunakan akal pikiranmu. Semoga hidupmu lebih baik." Dan sang burungpun terbang pergi meninggalkan sang pemburu yang termangu.

*Tanadi Santoso

Tolstoy

Penulis Rusia yang hebat, Leo Tolstoy, pada suatu hari berjalan jalan, dan merasa kasihan pada seorang pengemis. Maka dia berhenti, dan ingin memberi uang kepada si pengemis. Ketika dia merogoh kantongnya, baru disadarinya dia tidak membawa uang.

Maka dijabatnya tangan si pengemis sambil berkata: "Saudaraku jangan marah, maafkan aku, hari ini aku tidak membawa uang." Si pengemis tiba2 matanya berbinar binar, dengan syukur dan penuh kebahagiaan dia berkata: " Aku tidak mungkin marah, perkataanmu telah merupakan penghargaan yang terbesar yang aku pernah rasakan selama ini."

Leo Tolstoy memang tidak memberi uang, tapi dia telah mengembalikan harga diri sorang pengemis yang biasanya selalu di rendahkan masyarakat. Dan nilai kata2 satu kalimat Tolstoy telah memberikan nilai yang jauh lebih besar dari uang yang bisa diberikan kepada pengemis.

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, mempunyai kesamaan yang mendasar. Semuanya ingin dipuji, ingin diakui, ingin dihargai, ingin didengarkan, dan ingin dihormati.

Tidak peduli dia adalah pengemis, ataupun pebisnis, ataupun pengusaha kaya, selalu mempunya ego dan keinginan yang sangat manusiawi ini. Dan rahasia sederhana ini pasti akan meningkatkan kemampuan anda dalam berhubungan dengan siapapun didalam network anda.

Kita harus belajar melihat siapapun sebagai manusia yang mempunyai kelebihan sendiri dendiri. Kita harus mampu menghargai orang lain, dari dalam hati kecil kita. Tulus menganggap orang lain setara, atau bahkan lebih dari kita. Dengan demikian maka segala urusan komunikasi akan selesai dengan sendirinya. Dan anda akan lebih mudah mencapai sukses anda.

The Innovator’s DNA

Apa yang membuat seseorang bisa menjadi inovator? Riset tujuh tahun yang dilakukan Jeffrey H.Dyer, Hal B. Gregersen dan Clayton M. Christensen terhadap 25 innovative entrepreneurs, dan survey pada lebih dari 3000 orang memberikan pencerahan yang menarik.
Dicovery skills adalah kemampuan "menemukan" sesuatu yang inovatif, dan menjadi bagian dari prilaku dan DNA dari para inova
tor. Riset menunjukkan bahwa ada 5 hal yang selalu dilakukan oleh para inovator seperti Steve Jobs (Apple), Michael Dell (Dell Computer), Pierre Omidyar (eBay), Jeff Benzos (Amazon), Herb Keleher (Southwest Airlines), Niklas Zennstrom (Skype) dan lainnya.
Discovery Skill 1: Associating.
Kemampuan untuk menyambungkan hal2 yang kelihatannya tidak mempunyai hubungan sama sekali menjadi sesuatu yang baru. Menurut Steve Jobs, "Creativity is connecting things".
Menggabungkan idea dengan apa yang kita lihat, dan teknologi yang sedang muncul. Steve menggabungkan kecintaannya akan kaligrafi, konsep meditasi di India, dan perhatian akan detail dari Mercedes-Benz, ditaruh diatas teknologi yang mutakhir dan design yang elegan.
Fenomena ini disebut "Medici Effect": Di Florence Italy, pada jaman tersebut Medici Family berhasil mengumpulkan para pelukis, pemahat, arsitek, filsuf, dan orang2 hebat lainnya dari berbagai ilmu, maka berkembanglah menjadi jaman Renaisance, era paling banyak penemuan dan kemajuan pada sejarah dunia.
Discovery Skill 2: Questioning.
Peter Drucker selalu mengatakan bahwa yang tersulit bukanlah mencari jawaban yang baik dan benar, tetapi mendapatkan "pertanyaan yang tepat". Para inovator selalu mempertanyakan keabsahan sebuah hal yang mapan, dan punya gairah besar untuk merubah dunia. Pertanyaan yang menabrak tembok2 batas yang diciptakan oleh benak kita sendiri, dan mencoba berpikir secara terbalik.
Pertanyaan kunci yang sering dipakai sebagai awal explorasi adalah "Why", "Why Not?", dan "What If?"; Ketika pada manager memikirkan bagaimana menekan beaya 5% dengan melakukan outsorucing dan efisiensi, maka para inovator memikirkan bagaimana membuat perangkat ini bisa dikecilkan ukurannya menjadi setengah, menambah fiturnya menjadi tiga kali, dan menjualnya sepuluh kali lebih mahal.
Dahulu ketika perusahaan lain membebankan beaya kotak surat elektronik dengan ukuran 10 MB, inovator membuat kotak elektronik 100 kali lebih besar dan sistem email yang lebih baik, dan diberikan gratis kepada semua orang.
Discovery Skill 3: Observing.
Observasi yang sangat detail pada kehidupan kadang mampu menelorkan idea baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Scott Cook mengawasi betapa sulitnya istrinya mengatur catatan keuangan, frustari akan angka dan metode yang hanya dimengerti oleh para akuntan saja. Sepulang melihat komputer Apple Lisa, dia memikirkan mengapa tidak ada software dengan grafis yang mudah dimengerti untuk mengatur pembukuan? Lahirlah Quickbook yang merevolusi software sistem akutansi dan sukses besar.
Sering seorang pimpinan menjadi lepas dari "dunia nyata" dan tidak lagi mau melihat dijalan dan dilapangan. Inovator justru menemukan banyak idea karena sering mengawasi secara langsung apa yang dialami dan terjadi pada pelanggannya. Filosofi Toyota "genchi genbutsu", pergi kelokasi melihat sendiri, ditanamkan pada kultur perusahaan.
Tinggal di sebuah tempat asing, terutama di luar negeri, juga menambah wacana orang akan kemampuan berinovasi. Produk, proses, bisnis, kultur, kebiasaan, cara hidup yang bervariasi membawa orang pada pemahaman baru yang menghasilkan pemikiran yang berbeda dengan mereka yang selalu tinggal pada tempat yang sama.
Discovery Skill 4: Experimenting.
Experimen membuat kita lebih cepat melihat reaksi pelanggan, membuat kita berinteraksi dengan pelanggan dan pemakai, membuktikan akan bisa atau tidaknya sebuah idea dijalankan. Dalam riset produk pun Edison berkata: "Saya bukannya gagal, tetapi berhasil membuktikan 1000 bahan yang tidak dapat dipakai untuk itu". Sebuah optimisme dan kemauan untuk terus mencoba dan bereksperimen.
Amazon mencoba berbagai model untuk pembaca buku dan akhirnya menelorkan pembaca elektronik "Kindle" yang sekarang sukses luar biasa. Jeff Besoz selalu menyarankan pada eksekutip nya untuk bereksperimen mencoba sesuatu yang baru, karena tanpa percobaan dan kegagalan yang berulang tidak mungkin dilahirkan sebuah inovasi yang sukses.
Discovery Skill 5: Networking.
Kalau para manager memelihara network untuk memacu penjualan dan bernetwork dengan partner yang mendukung bisnisnya, maka para inovator justru bernetwork dengan orang2 yang berbeda latar belakang dan pandangan hidupnya untuk memetik idea dan pemikiran mereka dan dileburkan kedalam pemikirannya. Orang2 dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda akan mengasah idea dan pendapat kita menjadi lebih beda dari yang yang ada di market.
Michael Lazaridis menemukan idea Blackberry pada sebuah konferensi teknologi pada 1987, ketika pembicara menceritakan sistem wireless yang didesign untuk Coca cola. Telah terlalu banyak penemuan hebat yang ditemukan pada industri2 yang lain; kita akan jauh lebih mudah memetik dan mengadaptasinya dan menggabungkan dengan bisnis kita dan menghasilkan inovasi yang yang baru. Jaringan persahabatan memudahkan kita bertemu dengan orang2 yang ahli pada bidang2 lain tersebut.
Untuk sedikit menguji keabsahan hasil riset diatas secara imaginatif cobalah bayangkan ada 2 orang kembar yang memiliki intelegensia dan bakat2 yang sama. Mereka berdua diberi tugas yang sama untuk dalam sebulan dapat menemukan idea bisnis yang baru dengan sumber daya yang ada.
Dalam sebulan, mana yang akan lebih berhasil, yang satu mengurung diri dan mencari idea dalam benaknya, ataukah satunya, yang (1) berbicara dengan para ahli, teknisi, pelanggan, pemusik, dan pemahat dan pebisnis sukses lainnya, (2) mengunjungi dan mengawasi pabrik2 dan tempat2 bisnis yang sukses, (3) mencoba produk2 kompetitor yang baru diluncurkan dipasar dan membawanya kepada teman2nya menanyakan fitur apa yang menarik dari produk itu, (4) membuat prototype produknya secara sederhana, dan (5) selalu menanyakan "Bagaimana kalau ini dirubah?", "Mengapa tidak mungkin?", "Bagaimana kalau kita coba cara baru ini?"
Para inovator terbukti menghabiskan waktu jauh lebih banyak pada kelima kegiatan ini dibandingkan orang lain dan mempu menggali sukses dari hal tersebut. Kelima kebiasaan kunci ini dapat dipelajari dan dilatih oleh setiap orang yang mau menjadi lebih inovatif. Dibutuhkan ketekunan dan kecintaan yang dilakukan secara terus menerus untuk dapat membuat hal ini menjadi sebuah bagian dari kebiasaan hidup kita.
*Tanadi Santoso